KISAH POHON APEL,bacalah..

Juli 6, 2008

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang
bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari.
Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya,
tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat
mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak
kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan
tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini
bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu. “Aku bukan anak kecil
yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.”Aku ingin
sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau
boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang
untuk membeli mainan kegemaranmu.” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu
memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.
Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu
kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya
datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya
waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami
membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” Duh, maaf
aku pun tak memiliki rumah.

Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata
pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon
apel itu dan pergi dengan gembira.Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat
anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon
apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa
sangat bersuka cita menyambutnya.”Ayo bermain-main lagi denganku,” kata
pohon apel.”Aku sedih,” kata anak lelaki itu.”Aku sudah tua dan ingin hidup
tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah
kapal untuk pesiar?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan
menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan
bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal
yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui
pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf
anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi
untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah
apelmu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon
apel.”Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu.”Aku
benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang
tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon
apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki.
“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah
sekian lama meninggalkanmu.” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar
pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari,
marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”
Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

NOTE :
Pohon apel itu adalah orang tua kita.
Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika
kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita
memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita
akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah
bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita
memperlakukan orang tua kita.

Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita.
Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan
berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

artikel bagus ini kami kutip dari sini.

Iklan

SLAMET,SI TUKANG TEMBAK

November 23, 2007

tukang tembak 

Slamet,begitu orang biasa memanggilku.tubuhku kurus rambut agak keriting dan kata temanku wajahku mirip salah satu penyanyi dangdut terkenal.

pekerjaanku adalah on the job training di salah satu perusahaan di jepang atau bahasa gaul nya adalah TKI.ya, aku salah satu korban yang tergilas roda kemiskinan di negri yang konon kata pak guru SD ku subur dan makmur.

aku di besarkan di lingkungan yang kumuh,keras dan jauh dari ketenangan.mungkin itu juga yang membuatku selalu susah untuk bergaya hidup bak japanese yang konon selalu menjaga kebersihan,jujur dan taat peraturan.

***

suatu senja di awal musim dingin,aku masih duduk di sebuah taman sebrang mall yang lumayan jauh dari tempat mondokku.

tentu pacar setiaku selalu menemaniku,apalagi di saat dingin seperti ini.dia selalu ada untuk sekedar memberikan kehangatan.dan tak pernah tergantikan sampai sekarang,karena dia memang tak pernah rewel walau kadang aku jepit dia di saku celanaku yang kumal.

ku hisap dia,nikmat pun terasa bersamaan mengepulnya asap.seorang temanku terlihat sibuk mengepal-ngepalkan tangan nya,menggigil menahan dingin.

ayo pulang met,udah dingin ni..”ucapnya memohon.

ntar baru jam 5 lebih kok..”kataku setelah melihat jam digital yang tertera di telepon genggamku.

pikiranku memang sudah di rasuki iblis.aku tak mau buang-buang uang banyak cuma gara-gara stasiun tempat ku turun nanti masih terjaga.gajiku kecil,lagi pula dulu negaraku pernah di jajah oleh negri ini,kenapa sekarang kita tidak menjajahnya dengan cara kita sendiri,gumamku dalam hati mencoba ber argumen.

aku berjalan menyusuri lorong,terlihat kontras di keramaian karena memang warna kulit dan style ku yang berbeda dengan mereka.aku mendekat ke tembok yang terdapat mesin penjual tiket yang entah apa namanya.setelah bertransaksi aku bergegas menuju pintu ajaib yang tampak sibuk melayani orang yang keluar masuk.

aku menerawang sekeliling,mencoba mencari perlindungan dari hembusan udara dingin yang makin menusuk.untunglah tak lama kemudian datang juga kereta yang ku tunggu di barengi suara merdu pemandu stasiun yang sebenarnya aku tak paham betul artinya,lagian apa urusanku.

karena kesigapanku aku berhasil juga mendapatkan tempat duduk.tidak seperti temanku yang harus berdiri bergelantungan dengan mahluk-mahluk asing.

andaikan disini aku menghisapmu sayang,tentu perjalanku bertambah indah“.

gumamku sambil merapikan pacarku yang terjepit di selangkangan.

kereta terus berjalan,orang-orang di sekitarku tampak sibuk membaca buku,ada yang mengantuk dsb.akupun enjoy,terlena dengan alunan musik yang terdengar sayup-sayup dari earphone ku.

***

dalam pandangan mataku yang mulai sayu,aku melihat petugas kereta yang mondar-mandir menenteng tas kecil yang entah apa isinya.

aku kaget,mataku yang setengah tertutup melihat petugas yang tidak begitu jauh dari tempat duduku membungkukan badan dan berkata sesuatu yang tidak begitu jelas bagiku.

celaka,pemeriksaan tiket..!”gumamku dalam hati.

dadaku bergemuruh ketika melihat orang-orang di depanku menunjukan tiketnya.aku bingung,petugas itu semakin mendekat tinggal beberapa kursi depanku.aku mencoba menguasai keadaan.kepejamkan mata,agar terlihat seperti orang tidur.dan berdasarkan pengalamanku cara ini jitu karena hampir tak mungkin petugas kereta berani membangunkan penumpang yang sedang tidur.

hatiku masih berdetak kencang,kali ini aku merasakan hal yang tidak biasa.pikiranku berkecamuk namun tiba-tiba aku teringat kalau aku bisa membayar kekurangan tiket di dalam kereta.

maaf bisakah anda menunjukan tiket anda..?”

suara bernada sopan itu persis berada di depanku.aku tak mempedulikan nya.mataku masih terpejam dalam kepura-puraan.

selamat malam bapak,bisakah anda menunjukan tiket anda?”suara petugas kereta itu masih terdengar.

aku tak bergeming..

namun kali ini aku kaget karena sebuah tangan menepuk pundakku perlahan dan kembali suara itu terdengar.

aku berakting pura-pura baru terbangun dari tidur,aku mendapati wajah petugas tersenyum aneh dengan topi terangkat dari kepalanya.

ini..”

aku menyerahkan selembar tiket dengan tangan gemetar dan langsung ku rogoh dompetku bermaksud menutupi kekurangan harga tiketku.

anda turun di mana..?”tanya petugas.

saya turun di on*** pak”jawabku mantap.

ya,ini tiket anda.terima kasih..”sambung petugas itu.

aku terbengong-bengong sambil melirik dompetku yang sudah terbuka.

goblok apa gi mana tu orang..”gumamku dalam hati.

dadaku tak lagi berdebar,

aman..”bisikku dalam hati.

tapi terasa ada sesuatu yang mengganjal.

***

kaca kereta tampak mulai basah oleh embun dingin yang manja,penumpang dalam kereta pun banyak berkurang.dan tinggal satu stasiun lagi aku sampai di tujuan.

tak lama kemudian kereta berhenti di tempat tujuanku,stasiun kecil yang tampak sunyi bila menjelang malam.aku turun berjalan menyusuri lorong sambil melihat tiketku.mencoba mencari jawaban atas apa yang baru saja terjadi.

seperti biasa stasiun ini sepi tak ada seorang petugas pun nampak berjaga,aku melenggang melewati pintu gerbang.

langkahku terhenti di gerbang stasiun.aku melihat 2 orang memakai jas dan seorang dengan seragam dinas petugas kereta,dengan senyum berwibawa menyapaku.belum sempat aku menjawab dia menunjukan lencana dan langsung berkata.

“kami polisi”.