MENIKMATI KESULITAN DAN TANTANGAN

Februari 4, 2008

tantangan2.jpg

Kekuatan tidak didapat dari duduk santai dan pekerjaan gampangan. Kita bisa menanyakannya kepada para olahragawan, atlet binaraga misalnya. Segalanya datang dari kesulitan dan tantangan. Para atlet binaraga tahu bahwa mereka harus menempa semua otot mereka agar bertumbuh. Dan sama dengan hal itu, karakter kita akan ditempa dengan kesulitan yang kita temui.

Tanpa kesulitan, kita tidak akan mengenal kenikmatan, apalagi menikmatinya. Kesulitan dalam hidup, hanyalah agar kita lebih mengenali kenikmatan hidup. Setiap rintangan yang berhasil diatasi, akan membuat kita menjadi lebih kuat. Setiap tantangan yang kita lewati, menghasilkan kegembiraan yang lebih sempurna.

Tantangan memberi kita tugas untuk dikerjakan.

Bayangkan betapa keringnya hidup bila segala sesuatu muncul begitu saja saat kita inginkan. Hargailah masa susah, karena masa itu berlimpah kesempatan. Bangkitlah menghadapi tantangan pahit, dan hidup kita akan terasa manis.

Tahukah Kita.??

Nelayan-nelayan Jepang menggunakan bantuan burung Kormoran hidup untuk menangkap ikan. Kormoran adalah jenis burung laut pemakan ikan dengan kaki berselaput dan memiliki paruh berkantung seperti pelikan. Para nelayan Jepang kerap menjepit sayap Kormoran dan membawa kira-kira 10 hingga 12 ekor Kormoran dalam sebuah perahu kecil, selain diikat dengan tali, leher Kormoran dipasangi cincin kecil terbuat dari logam yang pas dengan ukuran leher Kormoran.

Kormoran selanjutnya dilepas untuk menangkap ikan. Saat ikan didapat, Kormoran tidak bisa menelannya karena ikan yang didapat tidak bisa melewati lehernya yang dijepit cincin logam. Saat itulah nelayan menarik Kormoran, lalu membuka mulutnya dan mengambil ikan di dalamnya, untuk selanjutnya melepas Kormoran kembali menangkap ikan. Kormoran akan terus menyelam dan menangkap ikan walau akhirnya ikan itu akan selalu diambil oleh nelayan.

Note :

Kata-kata Bijak Hari ini :
Agar dapat membahagiakan seseorang,………… isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan laparnya dengan makanan.!!
(Frederick E. Crane)

sumber tulisan kami kutip dari sini


SIDAK JITCO!

Januari 24, 2008

mendadak 

hari ini tempat tinggal kami kedatangan tamu tak di undang,atau bahasa pejabatnya di sidak alias di inspeksi mendadak.dan tamu tak di undang itu adalah utusan JITCO (Japan International Training Cooperation Organization) atau Dirjen Pemagangannya jepang.

yang di sidak tentu bukan harga kedelai yang lagi melangit,tapi kelayakan tempat tinggal dan segala yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari kami.

utusan jitco kali ini di dampingi “krupuk” nama kachou (setingkat manager lah..) perusahaan tempat kami magang dan juga dua orang calo dari IMM Japan.

inspeksi di lakukan dari pertama membuka pintu,mengecek rak sepatu kemudian di teruskan menuju kamar tidur.di kamar tidur mereka menggeledah dengan membuka kasur yang kami pakai.kemudian di teruskan ke bagian dapur,kulkas menjadi target utamanya untuk memastikan apakah makanan yang kita konsumsi masuk akal.bahkan,ketika di dalam kulkas tidak di temui sayuran langsung di tanyakan.

saklar listrik,alarm gas beracun dan lampu tak luput dari pengecekan.petugas dari JITCO tampak sibuk mencatat sesuatu entah apa.kemudian pengecekan di teruskan ke kamar mandi,mesin cuci dan di teruskan ke toilet.

di toilet yang sebenarnya sudah bersih (paling nggak menurut kami) petugas tadi mengeluarkan sebuah alat pengukur ketajaman bau mungkin namanya “baumeter”.dan butuh beberapa saat untuk memastikan bahwa toilet aman.

dan sebelum mereka pergi,sempat juga mengecek apakah tertempel dengan baik nomor-nomor penting untuk urusan gawat darurat.

sebenarnya kegiatan ini rutin di lakukan tiap beberapa bulan sekali,namun kami tidak tahu persis kapan datangnya.

harapan kami,semoga apa yang mereka lakukan bisa di tiru oleh bangsa kita indonesia agar mampu memperhatikan keadaan rakyatnya,amin.


MENGAPA MASIH BEKERJA?

Januari 12, 2008

ayo kerja

“Ambillah pekerjaan yang Anda cintai, dan Anda tidak akan (merasa) bekerja seumur hidup.”~ Harvey Mackay“Sejumlah orang berhasrat besar untuk menjadi kaya raya agar bisa mengalami kebebasan finansial, tidak lagi harus bekerja untuk menafkahi hidup keluarganya. Mereka ingin berhenti bekerja, kalau mungkin pensiun dalam usia muda. Lalu, mengapa sejumlah orang yang sudah sangat kaya justru masih rajin bekerja keras?” tanya saya kepada sejumlah kawan.Charles Schwab, tokoh legendaris dalam industri baja di Amerika Serikat, pernah mengatakan, “Barangsiapa yang tidak bekerja demi cintanya pada pekerjaan itu, melainkan hanya untuk mendapatkan uang semata, maka pekerjaan itu tidak akan menghasilkan uang ataupun kebahagiaan dalam hidupnya.” Ia mungkin benar. Berbagai studi mengenai orang kaya menunjukkan bahwa kebanyakan orang kaya memilih pekerjaan yang disukai dan dicintainya. Walau awal keterlibatan mereka dalam pekerjaan atau bisnis tersebut bisa juga karena “terpaksa” atau “kebetulan”, tetapi kemudian mereka mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap bisnis dan pekerjaannya itu. Hal ini membuat mereka bertahan mengerjakan bisnis atau pekerjaan yang sama selama bertahun-tahun, mempelajarinya dengan saksama, sehingga menjadi ahli dalam soal tersebut.Seperti pengalaman Martin J. Grunder, Jr seorang pebisnis di Dayton, Ohio, Amerika. Sejak remaja ia sangat tertarik pada soal memotong rumput dan menata pekarangan belakang rumah orangtua dan kerabatnya di Ohio Selatan. Lalu, ketika mulai kuliah, ia memutuskan untuk mendirikan perusahaan pertamanya Grunder Landscaping Company. Modalnya waktu itu adalah sebuah mesin pemotong rumput seharga 25 dolar AS yang dibeli dari toko loak (barang bekas). Selama lima tahun pertama, usahanya tidak mengalami perkembangan yang berarti, bahkan akuntannya menyarankan agar ia menutup saja usaha tersebut. Tetapi, Grunder maju terus. Pada tahun terakhir kuliahnya, perusahaan Grunder telah bernilai 300.000 dolar dan kisahnya dimuat di The New York Times. Dan, pada tahun 2003 Grunder Landscaping memiliki lebih dari 40 pegawai profesional dengan omzet tahunan 3 juta dolar. Ia menerima tak kurang dari 30 penghargaan lokal maupun nasional atas usaha yang dilakukannya. Dan yang paling menarik adalah ia dengan tegas mengatakan, “… saya sangat mencintai pekerjaan saya, dan saya tak keberatan untuk bangun setiap pagi dan berangkat bekerja. …, saya selalu mencintai pekerjaan saya. Yang saya lakukan adalah hal-hal yang memang saya cintai, jadi mudah bagi saya untuk maju.”

Memilih untuk melakukan apa yang memang disukainya, itulah benang merah yang juga akan kita temukan ketika membaca riwayat hidup orang-orang super kaya dari industri dotcom, seperti Bill Gates, Larry Allison, Jeff Bezos, Steve Jobs, dan Michael Dell. Mereka mencintai apa yang mereka kerjakan, dan karena itu mereka mengerjakan dengan gegap gempita. Halangan dan hambatan justru menjadi pemicu gairah, menjadi tantangan yang mengundang untuk ditaklukkan. Antara “bekerja” dengan “bermain” menjadi sulit dibedakan. Namun, yang juga sangat penting adalah mereka bisa membuat pekerjaan yang disukainya itu mendatangkan keuntungan dan penghasilan yang luar biasa bagi dirinya.

Di Indonesia, kalau kita mau berbincang soal industri jamu, temuilah Irwan Hidayat yang mempopulerkan jargon “Orang pintar minum tolak angin”. Dengan segera kita akan merasakan bahwa ia sangat mencintai dunia yang digelutinya itu. Dengan fasih ia akan menuturkan sejarah dunia perjamuan, tantangannya di masa lalu dan saat ini, serta sejumlah rencana yang ingin segera ia laksanakan. Atau, dengarkanlah apa yang sering kali dibicarakan oleh pebisnis sukses macam Jakob Oetama, pendiri dan pemimpin Kelompok Kompas Gramedia. Kita akan segera maklum mengapa ia gigih mempertahankan bisnis di seputar soal media cetak, toko buku, percetakan, penerbitan, televisi, perhotelan, dan sejumlah usaha lain yang menopang proses pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia. Dan, bila kita sempat mempelajari kiprah pebisnis bernama Djoenaidi Joesoef, pendiri dan pemilik kelompok bisnis Konimex, kita juga akan tahu bahwa ia mencintai bidang kefarmasian sejak masih sangat muda. Ia terlibat dalam sejumlah proses peracikan obat-obat yang kemudian menjadi sangat terkenal di negeri ini.

Demikianlah orang-orang kaya, terutama yang merupakan generasi pertama—pendiri dan sekaligus pemilik—meraih kemapanan secara keuangan karena menekuni bidang pekerjaan yang mereka cintai sungguh-sungguh. Awalnya ada yang merasa “terpaksa”, atau sekadar “kebetulan”, tetapi ada juga yang memilih dengan sadar dan sengaja. Apa pun awalnya tidaklah penting. Yang penting mereka berhasil menumbuhkan kecintaan terhadap pekerjaan dan bisnis yang ditekuninya. Dan rasa cinta yang besar membuat mereka tidak keberatan untuk selalu bangun pagi. Dengan senang hati mereka bekerja keras sepanjang hari selama bertahun-tahun (sebenarnya mereka tidak pernah merasa “bekerja keras”, sebab yang dilakukan adalah apa yang memang “disukai”). Dan dengan gembira pula mereka menuai buah-buah kerja kerasnya dalam bentuk pundi-pundi kekayaan yang luar biasa.

Jadi, mengapa orang-orang yang sudah sangat kaya raya masih saja suka bekerja keras? Karena, mereka mencintai pekerjaan mereka. Karena pekerjaan itu memberikan gairah hidup bagi dirinya. Karena, pekerjaan itu telah menjadi habitus, menjadi bagian dari nafas hidupnya. Karena, pekerjaan itu mereka anggap mulia. Karena, mereka tidak lagi bekerja untuk memperoleh uang, tetapi untuk memperoleh hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang (cinta, kemuliaan, kehormatan, dsb).

Oprah Winfrey, perempuan kulit hitam paling kaya dan paling berpengaruh itu, pernah berkata, “Jika Anda telah menemukan pekerjaan yang bersedia Anda kerjakan sekalipun imbalannya tidak besar, maka Anda sudah berada di jalan menuju keberhasilan.” Demikiankah?[aha]

Kutipan : Tulisan Andreas Harefa, Pembicara dan Motivator yang kami kutip dari sini


KEMBALI BEKERJA

Januari 5, 2008

mari semangat

tak terasa liburan musim dingin ini hampir selesai.bahkan sudah ada yang kembali beraktivitas.

setelah hari-hari liburan kemarin di isi dengan kegiatan refreshing dan sebagainya maka selanjutnya adalah kembali menjalani rutinitas bekerja.

marilah kita awali tahun 2008 ini kita awali dengan semangat agar kita bisa memberikan karya-karya terbaik.

GANBARIMASYOU!!!!


KETEMU JUGA!

Desember 26, 2007

ketemu juga

Assalamualaikum
Nama saya junaedi, mantan kenshusei Yamaguchi kougyou onodashi, saya kenal dengan konsultan yang ada dalam foto, mungkin kalau ditanya ia juga ingat sama saya, maaf baru kali ini saya dapat memberi salam, mungkin kohai saya ada dalam foto tersebut, kita bisa saling kirim informasi salam kenal buat semua klub onoda family, buat keiko, makita san, dan teman2 di ube university, dan semua sensei di onoda japanese course

Mungkin kamu itu kohai saya, saya sempai kamu, tinggal di karawang jawa barat, saya kenal dengan motoda , yoshi ura (kerupuk:gelar yang kami beri) takenaka (tokek), nakamura (sacho ya sekarang) morata (yang bengis tapi baik), apa keiko masih sering ke haitsu hikari? tolong kirim salam ya!

kalimat di atas adalah salah satu komentar dari seorang pembaca yang kemungkinan besar adalah senpai kami.kami merasa sangat senang tentunya ONODA FAMILY benar-benar bisa menjadi jembatan persaudaraan tanpa batas di jagat antah berantah ini.
kami terharu dan kami percaya suatu saat nanti kami akan bertemu dengan senpai-senpai kami yang lain.tak sia-sia rasanya kami “dirikan” ONODA FAMILY ini karena tujuan utamanya adalah untuk membuat ALBUM KENANGAN “hidup” sehingga bisa di saksikan oleh kita kapan dan di manapun.
buat mas junaedi,maaf kalau kami tidak bisa mengenali anda secara langsung,namun kami percaya anda memang senior kami.kami senang bisa bertemu anda lewat media ini.kami juga berharap bisa bertemu dengan senpai-senpai kami yang lain.semoga

mari bertukar informasi


“DANGDUT RIA” DI UBE

Desember 26, 2007

dangdut ria

ada suasana lain di int house ube kemarin.tempat yang biasanya sepi berubah ramai oleh banyak orang.di ruangan yang cukup luas ini,terpasang rapi tikar bak warung lesehan.di sisi ruang tampak berjejer rapi meja berisi aneka masakan khas indonesia tentunya.dan yang paling mengasyikkan adalah terdengar alunan musik dangdut berirama padang pasir yang mengalun bersama angin dingin yang mulai menusuk.

ya itulah salah satu kegiatan yang kami ikuti kemarin.kumpul bareng sesama warga indonesia.

acara utamanya sebenarnya dalam rangka memperingati hari raya IDUL ADHA namun karena waktunya telat maka di sulap menjadi berdangdut ria di ube.

semoga suasana keakraban penuh cinta ini terus berlanjut.


MET IDUL ADHA,NATAL & TAHUN BARU

Desember 19, 2007

ONODA FAMILY

tak terasa hari raya dan tahun baru kembali datang,sebuah anugerah yang luar biasa bagi kita semua yang masih di beri kesempatan untuk melewatinya.

kami keluarga besar ONODA FAMILY yang terbentuk dari keanekaragaman agama,suku,budaya dan sebagainya adalah keluarga besar yang terlahir dari kebersamaan dan ada untuk kebersamaan.dengan ini kami mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA

SELAMAT HARI RAYA NATAL

SELAMAT TAHUN BARU

dengan kebersamaan,semoga kedepan segala sesuatunya akan lebih baik dari yang sekarang,amin.

Salam Hangat,